Kenapa UNS menggunakan webomatric???

Awal tahun kemarin memang menjadi awal tahun yang sungguh menggembirakan bagi Pak Tanto dan seluruh Tim Webomatric UNS yang sudah berkerja keras untuk menggarap sisi online UNS. Terhitung mulai Januari 2009, udah telah resmi naik peringkatnya ke level 2159. Sebelumnya UNS masih berada di rangking 4681 dunia pada bulan Juli 2008. Sungguh lompatan yang sangat dahsyat.

Oh ya, mungkin beberapa temen belum mengenal apa itu webomatric. Jadi tak ada salahnya kita ulas sedikit apa itu webomatric. Masalah Webomatric telah dibahas secara gamblang oleh Pak Romi Stario Wahono di blognya. Silahkan baca, judulnya “Teknik Perangkingan Universitas ala Webometrics“. Dalam tulisan beliau ini, pak romi mengawali penjelasannya dengan beberapa metode perangkingan Universitas yang ada, yaitu ARWU (Academic Ranking World University) dan menurut THES (the Times Higher Education Supplement), dan juga webomatrik yang saat ini masih terus digarap oleh UNS. Selanjutnya beliau menjelaskan mengenai beberapa faktor yang dinilai dalam webomatric. Ada 4 faktor yang menetukan, yaitu Visibility (V), Size (S), Rich Files (R) dan Scholar (Sc). Di mana dari faktor-faktor tsb, akhirnya diformulakan rumus berikut untuk menghitung perangkingannya :

Webometrics Rank = (4xV) + (2xS) + (1xR) + (1xSc)

Biar gak bingung, ini sedikit penjelasan mengenai 4 faktor tsb :
Visibility (V): Jumlah total tautan eksternal yang unik yang diterima dari situs lain (inlink), yang diperoleh dari Yahoo Search, Live Search dan Exalead. Untuk setiap mesin pencari, hasil-hasilnya dinormalisasi-logaritmik ke 1 untuk nilai tertinggi dan kemudian dikombinasikan untuk menghasilkan peringkat.

Size (S): Jumlah halaman yang ditemukan dari empat mesin pencari: Google, Yahoo, Live Search dan Exalead. Untuk setiap mesin pencari, hasil pencarian dinormalisasi-logaritmik ke 1 untuk nilai tertinggi. Untuk setiap domain, hasil maksimum dan minimum tidak diikutsertakan (excluded) dan setiap institusi diberikan sebuah peringkat menurut jumlah yang dikombinasi tersebut.

Rich Files (R): Volume file yang ada di situs Universitas dimana format file yang dinilai layak masuk di penilaian (berdasarkan uji relevansi dengan aktivitas akademis dan publikasi) adalah: Adobe Acrobat (.pdf), Adobe PostScript (.ps), Microsoft Word (.doc) dan Microsoft Powerpoint (.ppt). Data-data ini diambil menggunakan Google dan digabungkan hasil-hasilnya untuk setiap jenis berkas.

Scholar (Sc): Google Scholar menyediakan sejumlah tulisan-tulisan ilmiah (scientific paper) dan kutipan-kutipan (citation) dalam dunia akademik. Data Sc ini diambil dari Google Scholar yang menyajikan tulisan-tulisan ilmiah, laporan-laporan, dan tulisan akademis lainnya.

Nagh, trus kenapa coba UNS memilih webomatric sebagai tolak ukurnya?
Pikiran ini harusnya menjadi buah pikiran warga UNS. Ya dosen, ya karyawan, ya mahasiswanya. “Kenapa coba pak Tanto harus ngoyo, ngoyak-oyak Pak Tunggul, Mas Wawan, Mas Yudhi dan pak Sapto selaku Tim Webomatric UNS, menggenjot peringkat UNS agar bisa masuk 3000 besar di dunia. Kok kayak gak ada kerjaan lain? Wong banyak hal yang masih perlu diperbaiki di UNS. Salah satune soal akses internet yang kadang dirasa mahasiswa belum sepenuhnya merata.“. Bisa jadi ada oknum *halah* di UNS yang punya pikiran seperti itu. Ehm.. padahal (LOL).

Pertanyaan seperti ini, wajar-wajar aja dipertanyakan. Asal… jangan hanya sekedar pertanyaan, tapi jadikan pertanyaan ini mempunyai jawaban. Salah satu temen mahasiswa yang iseng-iseng saya tanya menjawab, “Yo kan UNS meh jadi World Class University mas, jadi kudu bisa bersaing di tingkat internasional donk. Bisa dibilang buat gengsi juga. Kan kalo rengkengnya tinggi, pamornya UNS juga naik mas”. Ok, jawaban ini adalah jawaban yang wajar ketika kita hanya tahu kulit luar dari webomatrik. Kita hanya tahu hasil dari webomatrik itu. Punya rangking sepuluh besar universitas indonesia yang masuk webomatrik nampaknya memang menjadi prestise tersendiri saat ini. Ngetren gtu loh. Hal ini tak lain dan tak bukan karena webometrik adalah ukuran aktifitas online di suatu universitas.

Tapi apakah cuman itu?
Tentu tidak. Ada banyak hal yang kemudian akan mengekor setelah peringkat itu di dapat. Terutama di bidang manajemen. Bisa dibayangkan kerjaan dapur yang akan ditanggung oleh UNS jika peringkat tinggi sudah di dapat. Semua manajemen online, minimal, akan segera diperbaiki. Padahal, bisa dibilang managemen internet (web, jaringan dkk) di UNS masih lemah. Di tingkat pusat (Puskom) misalnya, di bidang jaringan hanya dikelola oleh Pak Tunggul pribadi, soal web masih dikelola oleh mas Win dan mas Wawan. Padahal tahu sendiri, berapa banyak yang dikelola di UNS. Pasalnya apa? Di tingkat bawah, fakultas, semua managemen jaringan dan web belum ada team yang bertanggung jawab. Kebanyakan, hanya hit and run. Install web (mayoritas CMS), dan kemudian ditinggal dan tidak pernah tidak diurus lagi. Hal-hal macam inilah yang nantinya akan dikerjakan di dapur UNS.

Jadi, apakah wemotric uns hanya sekedar gengsi?

nb : tulisan ini terinspirasi karena diskusi dengan pak Tunggul soal pendapat salah satu dosen di salah satu fakultas tentang webometric.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Skip to toolbar